Selasa, 26 Februari 2013

REVITALISASI PERKADERAN HMI



REVITALISASI PERKADERAN HMI

Perjalanan panjang akan terus saya lalui, dari training ke training, dari forum ke forum. Dari sabang sampai merauke, dari daerah ke daerah dengan berbagai macam kultur, suku dan permasalahan yang kompleks di organisasi HMI ini.
Organisasi mahasiswa yang teramat tua dan gemuk, namun tak berenergi, sehingga ibarat macan tak bertaring dan lemes tak bergerak. Sedangkan disekelilingnya dipenuhi dengan kepentingan-kepentingan sesaat kelompok-kelompok pragmatis demi urusan pribadinya.
Secara ideologis telah rapuh, sacara intelektualitas telah kalah saing  dan diambil oleh orang-orang diluar organnisasi ini, atau bahkan diambil alih oleh para alumni. Secara profesionalisme cukup jauh tertinggal, hingga apalagi yang bisa dibanggakan?! Sepertinya saya sebagai master di HMI punya tanggung jawab besar untuk memberikan solusi alternatif dan kongkrit, strategis dan praksis.
Visi ini harus saya jabarkan dalam bentuk konsep, saya urai dalam misi-misi kecil untuk menunjang misi besar, sehingga mampu mencapai visi besar dalam organisasi ini. Dari  trianing ke training, dari kelompok diskusi kecil dan ringan harus ber-orientasi pada satu titik, yaitu pengembangan SDM dengan percepatan sepuluh kali lipat di organisasi ini. Kader-kader harus belajar lebih giat dan lebih cepat lagi untuk mengejar ketertinggalan hari ini. Sistem yang rapuh ini harus dirubah dengan sistem yang baru dan menantang. Konsep ini nantinya haruslah konsep yang revolusioner, radikal dan istiqomah.
Tentunya, hari ini saya harus memiliki kelompok-kelompok kecil yang masih komitmen dan loyal, konsis dalam berbagai macam tantangan, merubah kondisi yang sudah carut marut dan semrawut ini diperlukan suatu keberanian yang sistemik. Menggeser paradigma dan nilai-nilai lama yang jelek dan telah jadi kultur di keder-kader HMI selama ini.
Optimisme harus terus dibangun, diperkokoh dan terus dipupuk menjadi suatu energi dan kekuatan yang besar untuk suatu perubahan yang besar. Bangkit dari keterpurukan masa lalu ini harus menjadi kesadaran bersama. Membenahi sistem perkaderan dan khususnya sistem training di HMI adalah satu pilihan kalo HMI tidak mau tenggelam dan terlindas oleh sejarah.
HMI pernah menjadi ikon pelopor perubahan di negeri ini, pemuda yang brilian dan progresif pernah mewarnai perjalanan bangsa ini. Namun warna itu telah memudar , sehingga membutuhkan kualitas baru yang berbeda.
Oleh karena itu, HMI harus mampu menjawab tantangan ini kedepan. Mewarnai kembali bangsa ini dengan ide-ide brilian, cerdas, progresif, revolusioner dan kreatif. Tanggung jawab sebagai kader HMI adalah membuat/mengadakan suatu pembaharuan dalam organisasinya dan tanggung jawab sebagai instruktur adalah mengadakan suatu revolusi perkaderan dan inovasi-inovasi baru dari setiap jenjang trainingnya.
Sekarang ini tentunya dengan mudahnya fasilitas pembelajaran yang ada dan mudah untuk didapat seperti; buku, alat-alat teknologi, fasilitas tempat yang kondusif, hingga internet-pun bisa diakses dimana-mana. Maka sudah selayaknya  merumuskan konsep yang efisien dan berkualitas, dan sudah seharusnya kita melangkahkan kaki lebih awal untuk menjadi kelompok yang membawa peradaban baru diera milenium ke-III.
Banyaknya SDM yang sudah berkualitas dan memiliki integritas ini sudah selayaknya dijadikan tolak ukur atau konseptor/instruktur di HMI sesuai kompetensinya. Mari kita merambah dunia profesionalitas dan dari segala lini kehidupan. Mempermudah sistem koordinasi dan strukturnya dengan jaringan teknologi. Dan menata manajemen sedemikian rupa, sehingga organisasi ini ramping, lincah dan dinamis juga produktif.
Dan pada giliranya pembentukan watak dan integritas pada setiap diri anggota harus dipersiapkan, harus ada quality controle yang ketat untuk menjaga output perkaderan. Sehingga kita tidak akan kecolongan lagi, dengan output yang tidak bisa diandalkan.
Membangun jejaring komunikasi yang sehat dan melatih kader agar bisa mendiri. Agar tidak terjebak pada ketergantungan pada senioritas harus secepatnya diupayakan dan menjadi prioritas penting. Hal ini dalam rangka untuk menghilangkan budaya KKN baik diorganisasi maupun secara umum buat kepentingan bangsa dan negara.
Membangun generasi yang unggul dan berkualitas tinggi adalah impian yang harus diwujudkan, sehingga kedepan kita (HMI) ini akan memiliki kader-kader yang unggul dan handal dan siap untuk menciptakan peradaban yang baru. Kader yang memiliki knowledge, intelectuality, professionalitas, attitude (akhlaqul karimah), berbudaya/beradab dan hikmah.
Dari semua paparan diatas saya mencoba memberi gagasan untuk HMI kedepan:
1.       Mengurangi jumlah struktur / fungsionaris di PBHMI, maksimal 30-50 orang, dibadko antara 20-30 orang, dicabang antara 15-20 orang, dikorkom dan koms antara 10-15 orang, selebihnya dimaksimalkan dilembaga-lembaga kekaryaan sesuai dengan potensi dan profesionalitasnya.
2.       Dengan stratifikasi jenjang training dan kualitas yang memadai, BPL baik yang dicabang dan di BPL PBHMI harus diperbanyak dan dialokasikan dana yang maksimal buat perkaderan dan terus ditingkatkan kualitasnya. Sehingga akan berlomba-lomba secara kualitas menuju total quality.
3.       Merumuskan kembali pedoman perkaderan, sistem dan manajemen pengelolaan training, juga follow up dan upgradingnya. Menyususn kurikulum berbasis Kontemporer, komplek dan global.
4.       Memperbaharui konsep kerangka nilai-nilai dasar perjuangan dan panduan operasionalnya untuk menjadi pedoman/landasan gerak/langkah perjuangan kader dimasa yang akan datang. Kader yang dipersiapkan menjadi kholifah fil ard yang akan membangun peradaban baru. Membentuk lagi kerangka keseimbangan antara manusia, alam semesta dan sang penciptanya. Membangun konsep keadilan dan semangat untuk menggali ilmu pengetahuan yang telah ada dan terus dikembangkan menjadi IPTEK yang ramah lingkungan dan ramah kemanusiaan, dan tetap menjaga keseimbangan alam sehingga bisa/mamapu mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridloi Alloh SWT.
5.       Membangun lagi jejaring-jejaring sosial dalam rangka mewujudkan kemandirian anggota yang akan berefek pada kemandirian masyarakat berbangsa.
6.       Membuat langkah-langkah strategis untuk ikut andil dalam melakukan tekanan melalui bergaining politik pada pemerintah, sehingga mampu mempengaruhi pembuatan kebijakan pemerintah yang pro masyarakat kecil, sehingga akan melahirkan kesejahteraan sosial bagi masyarakat indonesia bahkan masyarakat internasional.
Sedangkan pada pedoman perkaderan, saya punya beberapa gagasan yang lebih intensif dan khusus. Diantaranya:
1.       Membedah ulang konsep pedoman perkaderan yang ada, dan mengevaluasi hasil dari konsep training selama ini.
2.       Menyederhanakan sistem training dan memperketat sistemnya dengan quality controle yang berstandart internasional.
3.       Pemakaian multibahasa dan multiteknologi dalam pentrainingan
4.       Kurikulum harus memiliki standar internasional, menitik beratkan pada wawasan global.
5.       Menguatkan kembali keterampilan kader dengan berbagai macam training profesi.
6.       Mempersiapkan instruktur / SDM yang berkualitas secara nasional dan internasional untuk diterjunkan pada seluruh training-training di HMI.
7.       Menggunakan sistem belajar 24 jam, bermuamalah dan beribadah. Sehingga training-training di HMI tidak lagi terasa gersang dari nilai-nilai keislaman dan praktek-praktek keislaman itu sendiri.
8.       Kajian advokasi, analisis dan penelitian sudah harus menjadi metode penting dalam training-tarining di HMI. Terjun mengadvokasi masyarakat dengan kompleksitas permasalahanya. Juga hal-hal yang terkait dengan teknologi dan peluang berwirausaha.
9.       Kajian-kajian keilmuan harus berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits, karena kebangkitan Islam ada pada Al-Qur’an dan Hadits, baru dikembangkan dalam kerangka strategis dan taktis.
10.   Menjadikan budaya lokal (kearifan lokal) agar menjadi bassis / materi dalam training. Hal ini untuk mengangkat budaya lokal di indonesia menjadi budaya global, baik philosophy hidup maupun kreativitas budaya lokal.
11.   Sistem evaluasi training dengan beberapa pointer diantaranya :
a.       Afektif : kedisiplinan, etika, kerapian, performance
b.      Kognitif : screening, test, tugas, aktivitas forum
c.       Psikomotorik : tanggung jawab, kepemimpinan, sosialisasi, praktik, ibadah
12.   Manajemen pengelolaan training dengan prosentase sebagai berikut:
LK I: Inbond 70% outbond 30%
LK II : Inbond 50% outbond 50%
LK III: Inbond 30% outbond 70%
Sedangkan prosentase materinya :
LK I : 70% teori, 30% praktek
LK II : 50 Teori, 50 % praktek
LK III : 30% Teori, 70 % praktek
13.   Pemateri untuk LK III adalah peserta itu sendiri dan nara sumber/tokoh cukup dijadikan sebagai pembanding/penguji teori dari makalah peserta.
14.   Kurikulumnya harus berbassis ke-islam-an, ke-HMI-an, keindonesiaan, keterampilan (profesionalitas), kemandirian, wawasan internasional, wawasan IPTEK


Tidak ada komentar:

Posting Komentar