Sabtu, 25 Juni 2016

REMBULAN PUTIH DI LANGIT JAKARTA

REMBULAN PUTIH DI LANGIT JAKARTA

Ada senyum manja cahaya juwita
kasih rindu kanda temui
berikrarlah janji di antara genericik air di taman itu
kau setia, akupun mengerti
saat kugenggam erat jemarimu
kita pastikan untuk melangkah bersama.

adindaku yang tercinta,
kembang angin belumlah mampu aku tangkap
untuk aku persembahkan pada adinda
namun, marilah kita berusaha merencanakan takdir hidup kita

hingga saat malam tiba
ada senyummu sejukan hatiku
dan rembulan putih dilangit Jakarta
menyapa dengan tulus cahayanya
hingga getar dan kecepatan cahayanya memasuki lorong dan jendela kehidupanku
itulah ketulusanmu dinda…..

dinda……
saya faham, saat kau pegang kuat-kuat genggaman tanganku
ada jutaan beban dipundak dan fikiran juga hatimu
aku faham, hari ini kau butuh pegangan buat hidupmu
getaran itu terlalu kuat menggedor dinding rasaku dinda

dinda, jiwaku halus
cintaku tulus bersama kasih sayangku
kalau Tuhan telah menunjukan jalanku
dan dinda itulah ibu dari anak-anakku
malam tetaplah kau pegang erat dan kuat-kuat peganganmu
dan akupun tak akan pernah melepaskan peganganku.

dinda….
walau malam teramat jujur memperlihatkan wajah-wajahnya
rembulan putih dan kegelapan di alam-alamnya
namun, aku akan tetap berjalan di atas garis juangku
biarlah semua kentara
yang pasti kau kan setia
mengarungi samudera kehidupan
biarlah badai-badai kecil menerpa
namun tujuan tak pernah berubah

dinda…..
saat senyummu memanja
biarlah getaranya kan tetap mengalahkan cahaya rembulan malam ini
dan tetaplah pegang erat-erat, dan kuat cinta tulus ini
mudah-mudahan tuhan berikan jalan kemudahan dan kebahagiaan buat kita dan anak-anak kita,
cintaku seorang, de Nahdiya Farra

JEMBING SASTRO.2010

AKU MERINDUKAN KERINDUAN

AKU MERINDUKAN KERINDUAN

Aku bertanya ;
masih adakah kerinduan yang murni
cinta yang tulus
tanpa ada rekayasa
dan kepentingan sesaat
baik kepentingan materi dan politik!!!!

Apakah hari ini aku terlalu berharap
ada sisa-sisa kemurnian dan ketulusanmu
walau itu jauh dari realitasku!

Bodohkah manusia ini;
yang terus berlari dengan obor rindunya
namun kala semakin jauh
ia tak mampu kembali
untuk sekedar mencinta dengan kewtulusan jiwanya
yang tanpa intrik dan rekayasa
juga senyum kebohongan dalam rengek memanja!
bahkan nafsu berahi belaka!

Bila saja aku dan dia
masih bisa jujur dengan nurani
dan mampu menyatukan
antara logika rasa dan logika murni
pastilah waktu faham
dan sejarahpun akan goreskan pada tiap dinding-dindingnya
untuk sekedar lukiskan kerinduan dan cinta yang tulus murni
tanpa paksaan dan keterpaksaan
penuh merdeka dan romantisme-nya

Bilakah kerinduan ini merindukan tanpa kebohongan
atau sekedar kepentingan sesaat belaka 
maka, kemerdekaan cinta ini akan menghantarkan diriku bertemu dengan mu, hai kekasihku.....
atau cukuplah goresan jejariku ini akan aku putihkan
akan ku suci kerinduanku ini dari belenggu, kebohongan
atau yang hanya sekedar kamuflase belaka.

Bila Ia telah menuntunku
maka akan aku temukan dia, pasti!

JEMBING SASTRO.2010