Senin, 05 Desember 2016

DAHSYATNYA ENERGI AL-MAIDAH 51

Catatan KH Musta'in Syafi'i (Pakar Tafsir Tebuireng) terkait Aksi 212, Khususnya Untuk Nahdliyin

[Catatan KH Achmad Musta'in Syafi'i (Pakar Tafsir Pesantren Tebuireng Jombang) terkait Aksi 212 untuk Para Pemimpin PBNU]

"DAHSYATNYA ENERGI AL-MAIDAH 51"

Sekian lama KYAI toleransi sengaja "menyembunyikan mu", wahai al-Maidah 51 (menyembunyikan, tidak mau mendakwahkan bahwa haram memilih pemimpin kafir padahal sudah jadi Keputusan Muktamar XXX NU Lirboyo 1999 -red). Ternyata Pemilikmu tersinggung. Lalu, dengan cara-NYA sendiri DIA bertindak. Cukup lidah Ahok diplesetkan dan NKRI tersentak menggelegar, menggelepar.

Kita petik hikmahnya:

1. Aksi 411 dan 212 adalah bukti bahwa Allah SWT itu ada dan kehendakNya tidak bisa dibendung oleh siapapun. Pemerintah terpaksa harus mengalah, padahal sebelumnya Jokowi sudah pamer militer. Kini aksi diarahkan menjadi Doa. Ternyata malah punya daya tarik yang luar biasa. Seluruh negeri menyambut dengan nama berbeda, aksi Nusantara Bersatu, istighatsah militer dll.

Negara juga terpaksa mengeluarkan dana sangat besar untuk menfasilitasi aksi 212. Aparat di jalanan terpaksa harus menyesuaikan diri dg menggunakan simbol-simbol Islam.

Polisi pakai surban putih, membuat tim khusus bernama ASMAUL HUSNA, Polwan serentak berjilbab, Habib papan atas memimpin istighatsah pakai ikat merah-putih melilit kepala.

Mungkin Tuhan sedang menjewer telinga kita, agar selalu "putih" dalam mengemban amanat.

2. Mestinya penguasa dan para cukong sadar, bahwa negeri ini lebih banyak didirikan oleh teriakan "Allah Akbar" ketimbang "Haleluya". Umat Islam yang selama ini diam, kini sebagian kecil berani menunjukkan jati dirinya secara alamiah dan sangat militan. Inilah yang disebut "silent majority". Maka jangan coba-coba mengusik "air tenang" jika tidak

ingin hanyut.

3. Aksi ini sungguh peringatan, bahwa: tasamuh, tawazun, tawassut yang dislogankan NU itu perlu ditinjau kembali. Bukan pada konsepnya, tapi praktiknya. Di samping ada batasan, wajib apa pengawalan yang tegas dan bijak. Sadarlah, betapa kaum Nahdliyin diam-diam mengapresiasi aksi ini secara suka rela. Artinya, mereka sudah mulai tidak sudi dan meninggalkan gaya PBNU yang tak jelas. Sok toleransi, tapi tak ada aksi. Berdalih "RAHMATAN LIL 'ALAMIN" tapi sejatinya "ADL'AFUL IMAN" (Lemahnya Iman -red).

Dialah Rasulullah SAW, saat pribadinya disakiti, beliau memaafkan.. tapi jika agama dinista, beliau marah besar.. Beberapa suku dan pribadi dikutuk dan dilaknat.. Mukmin beneran itu tegas-keras kepada kafir, berkasih sayang sesama mukmin, "asyidda' 'ala al-kuffar, ruhama' bainahum" (Al-Fath:29). Tapi sebagian oknum PBNU, kiai toleransi, kiai seni sekarang cenderung sebaliknya, "asyidda' 'ala al-mukminin, ruhama' bain al-kuffar".

4. Gus Mus yang membid'ahkan shalat jum'ah di jalan raya dan Kyai Sa'id yang menghukumi tidak sah sekarang diam soal shalat jum'ah di Silang Monas. Wonten punopo kiai?

Begitulah bila Fatwa beraroma dan tendensius, hanya melihat illat hukum secara pendek dan sesaat. Terlalu naif menggunakan ikhtifah fiqihuntuk kepentingan politik.

Benar, jika itu mengganggu lalu lintas. Tapi hanya sebentar dan hanya pengguna jalan yang ketepatan lewat. Setelahnya, ada maslahah sangat besar bagi umat Islam pada umumnya. Maslahah inilah yang tidak beliau lihat. Lagian, tradisi kita sudah biasa menutup jalan untuk majlis dzikir, istighatsah, termasuk haul Gus Dur di pesantren Tebuireng.

Gus Mus pernah mencak-mencak saat amaliah kaum Nahdliyin dibid'ahkan, tapi sekarang ganti membid'ahkan sesama muslim, "bid'ah besar". Ternyata, amunisi bid'ah yg ditembakkan Gus Mus ini lebih besar dibanding bid'ah yg ditembakkan non-nahdliyin.

Sekedar membaca sejarah, bahwa zaman Umar ibn al-Khattab, tentara Islam shalat jum'ah di jalan sebelum menaklukkan negeri futuhat. Sultan Muhammad al-Fatih shalat jum'ah di sepanjang pantai Marmara sebelum menjebol benteng Konstatinopel. Inilah awal khilafah Utsmaniyah berdiri. Sekali lagi, orang 'alim mesti melihat sisi maslahah jauh ke depan ketimbang illat "bid'ah" sesaat.

Hadana Allah.

Minggu, 04 Desember 2016

Kekuatan Umat Islam Indonesia Sebagai Modal Masyarakat

- Kekuatan umat Islam Indonesia sebagai modal masyarakat-
Mungkinkah dari aksi 2 Desember terbangun kekuatan modal-

Yang membuat saiya kagum pada aksi 2 Desember lalu adalah munculnya swa-organisasi yang rapi, tertib, dari massa umat islam melanjutkan aksi penistaan agama sebelumnya. Aksi yang mendatangkan hampir 7,2 juta orang secara serentak di seluruh tanah air dengan yang menguras uang, perhatian, dan tenaga ditolak atau diterima telah menjadi fakta sejarah bahwa seandainya diorganisir dengan baik dan diikat dengan emosi yang terkontrol oleh akal sehat serta kesadaran ilahiah maka umat islam di Indonesia dapat menjadi modal masyarakat untuk memperkuat bangsa Indonesia.

Tidak dapat ditolak bahwa gerakan besar tetapi lembut dan cantik untuk mengawal proses hukum dengan cara menjunjung tinggi  demokrasi, sikap berkewarganegaraan, dan supremasi hukum ini telah menarik simpati masyarakat luas baik dalam dan luar negeri. Bagaimana dengan swadaya, swadana, swalayan, dan swa lainnya umat islkam mengorkestrakan satu gerakan nasional yang masif dan mengundang simpati luar biasa.

Aneka pujian dari mulai kebersihan, ketertiban, keindahan, keteraturan, sampai motivasi tulus baik peserta maupun simpatisan yang datang dari berbagai kalangan umat beragama untuk ikut berpartisipasi mendukung kegiatan dimaksud menunjukkan bahwa sebenarnya Islam di Indonesia dapat menjadi contoh dari apa yang disebut dengan demokrasi dengan basis kekuatan publik yang sebenarnya.

Saiya menyaksikan aksi besar tersebut di tengah-tengah acara High Level Meeting 2 tentang Kemitraan Global untuk Efektivitas Kerjasama Internasional di Nairobi Kenya. Pada saat komitment pendanaan bagi kegiatan pembangunan di negara-negara berkembang sedang diperbincangkan serius.

Setelah beberapa pertemuan di Shanghai, Cancun Meksiko, Busan dan kini High Level Meeting 2 di Naroibi, tentang masa depan kerjasama pembangunan global maka hal yang selalu muncul ke muka adalah keinginan dari semua orang untuk memajukan kepentingan nasionalnya di atas segala-galanya. Di satu sisi negara berkembang (developed) yang kaya tetap menginginkan diri mereka sebagai pemberi bantuan keuangan internasional dengan sistem bunga-riba yang tinggi dan tentu saja mengikat. Di sisi lainnya, negara-negara berkembang yang memiliki potensi kekayaan sumber daya alam dan manusia yang penting bagi terus bergeraknya kapital internasional tetap menjadi kelompok miskin yang tergantung pada uang bantuan negara lain.

Kontur kepentingan membangun dan kebutuhan memperoleh dana pembangunan tadi memaksa kita untuk terlibat untuk ikut merumuskan bentuk-bentuk negosiasi yang penuh intrik dan manipulasi yang dimainkan donor tradisional.

Terbukti dengan diulur-ulurnya program investasi di Indonesia telah memaksa pemerintahan memutar kepala menerapkan kebijakan ambil duit rakyat via program-program seperti pemotongan anggaran di pusat dan daerah. Penerapan tax amnesti, dan kemudian pajak-pajak lainnya demi menarik uang publik bagi kepentingan pembangunan yang tidak kunjung jadi.

Di sinilah kemudian saiya melihat bahwa sebenarnya aksi damai umat Islam 2 Desember lalu yang menarik simpati luas sebenarnya dapat dimaksimalkan menjadi modal masyarakat bangsa Indonesia.

Saiya membayangkan seandainya ada dana yang dapat diakumulasikan dari kehadiran 7,2 juta umat islam dengan model crown funding, satu orang seribu rupiah per hari atau per bulan. Maka tidak dapat dihindari aksi kemarin akan menjadi satu bentuk solidaritas kapital luar biasa untuk memulai kemandirian bangsa.

Melepaskan ketergantungan akut bangsa ini dari dana-dana bantuan asing yang diplot dengan bunga tinggi dan kesimpangsiuran program yang membuka jalan bagi terjadinya praktik korupsi antara pemilik modal dan penguasa. Kasus-kasus reklamasi pantai untuk properti mahal, perambahan hutan, penguasaan lahan tempat tinggal di perkotaan dengan cara menggusur orang miskin dan memenangkan modal pengusaha adalah beberapa contoh dari buruknya praktik akumulasi kapital pada segelintir orang.

Ini hanya dapat dilawan dengan memaksimalkan peran-peran swadaya masyarakat dalam organisasi modal bersama yang cakap. Kegiatan aksi damai 7,2 juta orang yang melibatkan dana, perhatian, dan tenaga kemarin sebenarnya dapat menjadi langkah awal bagi dibentuknya satu kekuatan ekonomi tandingan oleh umat Islam Indonesia bagi seluruh rakyat Indonesia.

*Foto group negosiator Nairobi. Prof. Stephan, Marthen, dll dari Jerman dan Prof. Jose, Prof, Li Xianyuo, Prof. Lie Wuein, Prof Nessan, Dr. Murrad Ali, Pak Andi dll dari grup Think-thank Selatan-selatan: Tema Toward aid: Seeking convergence, effort and effectiveness for global partnership for international development cooperation...