Senin, 10 Maret 2014

“FUTURE SHOCK” ALVIN TOFFLER

“FUTURE SHOCK” ALVIN TOFFLER

10 Maret 2014 pukul 17:43
“FUTURE SHOCK” ALVIN TOFFLER

Sejak menggegerkan dunia dengan ”ramalan”-nya tentang masa depan dunia yang terangkum dalam buku ‘Future Shock’ (1970), Alvin Toffler seolah tak pernah diam. Gagasan-gagasannya tentang benturan peradaban manusia yang telah jadi acuan utama para politisi dunia itu sepertinya terus mengusik benak Toffler, dan membuatnya tak mampu menghindarkan diri dari pusaran aktivitas pencarian. Di tengah proses pencarian itulah buku ini hadir di depan publik sebagai bagian dari rangkaian pemikiran Toffler sebelumnya.
Buku yang diterjemahkan dari ‘Creating A New Civilization: The Politics of the Third Wave’ (1995) ini terbagi dalam sembilan bagian. Masing-masing bagian mengurai bidang-bidang pembahasan yang terkait secara linier. Empat bagian pertama misalnya, merupakan penajaman-penajaman pandangan Toffler sebagaimana telah dipublikasikan melalui dua buku terdahulu, ‘Future Shock’ (1970) dan ‘The Third Wave’ 1980.
Bagian lima, enam, dan tujuh merupakan uraian lebih rinci dari buku Toffler selanjutnya, ‘War and Anti-War’ (1990). Dua bagian terakhir, yaitu ”Agenda Menyongsong Gelombang Ketiga” dan ”Demokrasi Abad Ke-21”, menjadi simpul yang dicoba ditarik Toffler dari pandangan-pandangan sebelumnya.
Sampai sekarang, menurut Toffler, manusia telah menjalani dua gelombang besar perubahan — yaitu gelombang revolusi agraris dan perubahan cepat yang terjadi pada proses industrialisi. Masing-masing gelombang melenyapkan budaya dan peradaban sebelumnya; dan menggantikannya dengan peradaban baru yang tak dapat dipahami oleh generasi sebelumnya. Revolusi pertanian (yang disebut Toffler sebagai Gelombang Pertama) membutuhkan proses ribuan tahun, sedang bangkitnya peradaban indutsri (Gelombang Kedua) hanya membutuhkan waktu 300 tahun.
Saat ini, menurut Toffler, sejarah bahkan berlangsung secara lebih akseleratif dalam proses Gelombang Ketiga yang bakal menyapu bersih bentuk peradaban sebelumnya dan menggantinya dengan sebuah peradaban yang benar-benar baru. Bagaimana bentuk peradaban baru dan bagaimana politik yang cocok untuk menghadapinya itulah yang diurai Toffler dalam buku terakhirnya ini. Tentu saja konsep dunia masa depan yang disajikan Toffler di sini tetap bertumpu pada gagasan-gagasannya terdahulu, khususnya mengenai benturan tiga peradaban manusia.

Pada tahun 1980, Alvin Toffler menyimpulkan tiga “gelombang perubahan” yang membawa dampak monumental pada peradaban, dalam bukunya “the third wave”. Intisarinya, Toffler membagi sejarah peradaban dalam 3 periode waktu yang berbeda yang dia sebut sebagai “gelombang” (wave). Masing-masing gelombang memiliki “techno-sphere” (lingkungan pengaruh teknologi)nya sendiri yang berbeda (khas) atau memiliki ciri dalam hal system energi, produksi dan distribusinya sendiri. “Techno-spere’ ini digerakkan oleh pembangunan “socio-sphere” atau system social keluarga (social system of family), tempat kerja, dan kelembagaan pendidikan. Jadi perubahan teknologi yang luas dapat dipikirkan sebagai “menjadi terikat secara langsung” dengan perubahan secara luas dalam pembangunan sosial masyarakat. Dalam pandangan Toffler, tiga gelombang perubahan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

Gelombang Pertama.
Gelombang perubahan pertama terjadi berkaitan dengan REVOLUSI PERTANIAN. Suatu periode dalam sejarah peradaban sekitar 8.000 tahun sebelum masehi sampai sekitar tahun 1700-an. Sebelum revolusi pertanian, manusia hidup dalam kelompok kecil, sering berpindah-pindah, kelompok ini mencari makan dengan berburu, mencari ikan dan mencari makanan yang tersedia di alam. Dengan revolusi pertanian, tersedia teknologi dimana orang dapat menetap disatu tempat, yakin akan terpenuhinya kebutuhan makanan sehingga dapat menciptakan apa yang kita sebut sebagai peradaban. Teknologi yang muncul selama periode ini termasuk alat pengungkit, alat penggerek, alat derek dan alat penjepit yang dirancang untuk memperbesar/meningkatkan sumberdaya energi terbarukan yang berasal dari tenaga manusia, hewan, angina, matahari dan air.

Gelombang Kedua
Gelombang perubahan kedua merujuk pada REVOLUSI INDUSTRI dan memakan waktu selama periode pembangunan sejak 1700an hingga kini. Di Amerika Serikat, gelombang ini memuncak pada pertengahan 1950an tapi di banyak belahan dunia lain gelombang ini masih terus berlangsung. Periode ini mengakhiri dominasi peradaban pertanian dan mengawali industrialisasi masyarakat. Teknologi yang diperkenalkan pada gelombang ini umumnya berdasarkan pada mesin elektromekanik yang digerakkan oleh bahan bakar fosil yang tidak terbarukan, menyebabkan perubahan secara luas dalam meningkatkan masyarakat. Contoh-contoh teknologi ini meliputi : mesin uap, kendaraan bermotor dan listrik. Keluarga menjadi lebih kecil, beralih pekerjaan dari lahan-lahan pertanian ke pabrik-pabrik, dan pendidikan beralih dari pendidikan di rumah menjadi pendidikan yang terorganisir di dalam kelas.

Gelombang Ketiga
Gelombang perubahan ini serupa dengan jaman paska industri, suatu periode yang diawali pada pertengahan/akhir 19650an dan sekarang sedang dialami oleh negara-negara yang menguasai teknologi tinggi seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa Barat, dan Jepang.Jaman ini berdasarkan sistem elektronika yang membantu mempercepat komunikasi, perhitungan, dan penyebaran informasi. Ketersediaan teknologi secara luas seperti komputer, telekomunikasi, robot, dan bioteknik juga telah meninggalkan tanda-tanda pada karakteristik sosial masyarakat. Perubahan mendasar dalam perilaku sosial sekarang dapat dilihat seperti pada organisasi angkatan kerja, pendidikan pemuda serta keberagaman dalam bentuk keluarga.

Perbandingan Tiga Gelombang Perubahan Alvin Toffler
Aspek Teknologi Utama
Gelombang 1
Pengungkit dan pengerek, katrol dan baji, mesin yang dirancang untuk melipatgandakan energi terbarukan yang berasal dari tenaga manusia, tenaga hewan, angin, matahari dan air.
Gelombang 2
Mesin elektomekanik dengan komposisi katrol, belt, bearings, dan baut dengan tenaga yang bersumber dari bahan bakar fosil yang tidak terbarukan
Gelombang 3
Peralatan elektronik yang mendorong kecepatan komunikasi dan perhitungan. Teknologi dirancang untuk memanfaatkan sumberdaya energi terbarukan. Bioteknologi terfokus pada peningkatan kualitas hidup.

Aspek Pengembangan Teknologi
Gelombang 1
Menyediakan kebutuhan dasar keluarga dan komunitas
Gelombang 2
Pemusatan teknologi untuk produksi masal dan penyebaran makanan. Peralihan pekerjaad dari ladang ke pabrik.
Gelombang 3
Secara elektronik menggerakkan klaster teknologi menggunakan energi yang minimal
Munculnya perhatian akan lingkungan dan kemanusiaan.
Otomatisasi pemikiran.

Aspek Kelembagaan dan Jejaring Organisasi yang terlibat dalam Pengembangan Teknologi
Gelombang 1
Komunikat kecil dan keahlian individu
Keluarga besar yang berakar dan tinggal dalam suatu lokasi
Rumahtangga turun temurun yang berfungsi sebagai unit produksi ekonomi
Bisnis yang dilaksanakan dalam bentuk kepemilikan individu dan pertemanan.
Pendidikan di rumah. Komunikasi dari mulut ke mulut.
Gelombang 2
Keluarga inti yang kecil dan mobile.
Pendidikan masal usia muda
Komunikasi jarak jauh
Pabrik besar, penggilingan, pengecoran, dan pertambangan.
Korporasi besar sebagai unit bisnis yang didanai oleh investor dari luar.
Gelombang 3
Peningkatan salingketergantungan antar organisasi.
Pengembangan aliansi strategis dan organisasi maya.
Mobilitas internasional dalam hal angkatan kerja dan modal.
Peningkatan kolaborasi antara korporasi swasta dan pemerintah .
Penerimaan ”pondok elektronik” sebagai alternative tempat kerja.

Apakah akan ada Gelombang Keempat ? Banyak orang mempercayainya, tetapi pendapat berbeda-beda melihat pada sifat dasar dari Gelombang Keempat. Setidaknya 2 tipe yang berbeda telah diutarakan : (1) Gelombang Hijau dan (2) Gelombang Biologi.

Mengikuti kepeloporan Toffler, Herman Maynard dan Susan Mehrtens mem-visikan Gelombang Keempat yang akan terjadi di masa datang. Dalam bukunya yang ditulis tahun 1993, Gelombang Keempat, penulis memaparkan pandangan korporasi sebagai pemandu dari perhatian dunia. Organisasi-organisasi ini akan muncul lebih sebagai komunitas daripada sebagai entitas bisnis dengan keputusan ditetapkan berdasarkan konsensus pada kebutuhan manusia dan lingkungan. Teknologi yang dikejar akan cocok dengan kebutuhan komunitas dunia dan bersama-sama dengan kebutuhan-kebutuhan planet. Kualitas hidup dan kesejajaran dengan aturan alam akan menjadi ukuran utama dari kekayaan suatu korporat. Kepemilikan menjadi komunal, keadilan ekonomi dan sosial akan menjadi perhatian utama. Secara ringkas, korporat akan melihat dirinya secara holistik (menyeluruh) sebagai pelindung masyarakat.

Sebagai alternatifnya, sebagian orang percaya bahwa setelah revolusi informasi atau gelombang ketiga AlvinToffler akan terjadi Revolusi Biologi. Pada inti revolusi atau gelombang keempat, terjadi kemajuan ilmu pengetahuan dalam pemahaman kode genetik manusia. Proyek genome manusia dan usaha-usaha lainnya dalam memetakan kode genetik diharapkan tidak hanya membawa kemajuan medis tetapi juga merubah secara mendasar cara kita menjalani kebidupan sehari-hari. Beberapa hal telah menciptakan potensi dilema/pilihan secara etika, khususnya menyinggung masalah cloning. Jika kita setuju dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan dan berhasil memecahkan dilema sosial dan kemanusiaan, banyak orang percaya bahwa kita akan tiba pada Gelombang Keempat.

THE WORLD IS FLAT

THE WORLD IS FLAT

10 Maret 2014 pukul 17:44
THE WORLD IS FLAT

Dunia menjadi semakin datar. Itulah pesan kuat yang disampaikan Thomas L. Friedman dalam buku ini. Banjir terjadi bukan semata limpahan air yang meluap ke mana-mana, tapi juga kita rasakan di bidang informasi. Bayangkan, berapa banyak informasi yang kita peroleh mulai dari media konvensional seperti koran, majalah, televisi, dan radio, hingga perangkat modern seperti handphone, Blackberry, internet, dan kini...iPad? Informasi tersebut kita peroleh hanya dengan mengklik tombol komputer – bahkan telepon genggam – yang dapat kita lakukan di mana saja, kapan saja.

Dua puluh tahun lalu, kita baru mengetahui suatu kejadian di tempat lain paling cepat sehari setelah peristiwa itu terjadi. Itu pun beritanya masih sepotong-sepotong. Kini, informasi menghampiri ruang hidup kita setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik bila kita menginginkannya. Berita-berita itu bukan hanya berasal dari media mainstream, sering kali justru datang dari pelakunya sendiri, atau orang yang berada di dekat tempat kejadian. Makin maraknya kegiatan menulis di blog, media sosial (Facebook, Twitter, Kaskus) atau website milik sendiri menunjukkan bahwa citizen journalist punya tempat di hati pembacanya.

Dunia memang sedang berubah. Friedman mengatakan, ”Kita telah membuat dunia ini menjadi datar!” Ungkapan ini bertolak belakang dengan penemuan Christopher Columbus yang mengelilingi dunia hanya untuk membuktikan bahwa Bumi ini bulat. Pengalaman Friedman saat berkunjung ke Bangalore, India, telah membukakan matanya bahwa Bumi tempatnya berpijak telah berubah menjadi datar. Bagaimana bisa?

”Lima ratus tahun lebih setelah Columbus berlayar menembus cakrawala dan kembali dengan selamat kala itu hanya menggunakan teknologi sederhana untuk membuktikan bahwa dunia ini memang bulat. Di Bangalore ini salah seorang insinyur paling cerdas di India, lulusan sekolah teknik terbaik di negerinya, didukung teknologi paling modern, mengatakan kepadaku bahwa dunia ini datar, sedatar layar tempat ia memandu rapat seluruh mata rantai pemasok dunia yang dipimpinnya.”

Apa artinya? Kita makin tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Teknologi informasi telah memudahkan kita menembus berbagai tempat yang dulu tak dapat kita jelajahi. ”Ketika kita berpikir bahwa dunia ini datar, atau setidaknya dalam proses menjadi datar, banyak hal menjadi lebih mudah dipahami daripada sebelumnya,” tulis Friedman. Ia memandang, mendatarnya dunia berarti semua pusat pengetahuan di planet ini terajut menjadi jaringan tunggal, yang bila tidak dirusak oleh politik dan terorisme mampu mengantar kita pada masa kesejahteraan, pembaharuan, dan kerja sama antar perusahaan, masyarakat, maupun pribadi, yang mengagumkan.

Di sisi lain, dunia menjadi datar juga menimbulkan kecemasan. Karena, bukan hanya orang-orang baik yang akan menyatu untuk berbagi pengetahuan dan bekerja sama untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Di belahan lain, para teroris dan penjahat kerah putih pun tak ketinggalan memanfaatkan datarnya dunia untuk meracuni pikiran orang dan mengembangkan aksi-aksinya.

Kita tentu tahu bahwa globalisasi sedang berlangsung. Tetapi, mungkin, kita belum sepenuhnya menyadari kekuatan di baliknya. Menurut kaca mata Friedman, globalisasi telah mencapai tingkat yang sama sekali baru. Sekitar tahun 2000 kita memasuki masa baru: Globalisasi 3.0. Sebelum membahas Globalisasi 3.0, saya ingin memberitahukan pandangan Friedman mengenai Globalisasi 1.0 dan 2.0.

Menurutnya, Globalisasi 1.0 berlangsung sejak 1492, ketika Columbus berlayar, membuka perdagangan antara dunia lama dan dunia baru hingga sekitar tahun 1800. Proses ini menyusutkan dunia dari ukuran besar menjadi sedang. Globalisasi 1.0 terkait dengan negara dan otot. Dalam Globalisasi 1.0 pelaku utama perubahan atau kekuatan yang mendorong proses penyatuan global, adalah seberapa gigih, seberapa besar otot, tenaga kuda, tenaga angin, dan tenaga uap yang dimiliki suatu negara serta kreativitas untuk memanfaatkannya.

Masa Globalisasi 2.0 berlangsung dari sekitar 1800 hingga 2000 dengan diselingi oleh masa Depresi Besar serta Perang Dunia I dan II. Masa ini menyusutkan dunia dari ukuran sedang ke ukuran kecil. Dalam Globalisasi 2.0, pelaku utama perubahan atau kekuatan yang mendorong proses penyatuan global, adalah perusahaan-perusahaan multinasional. Perusahaan-perusahaan ini mendunia demi pasar dan tenaga kerja, dengan dipelopori oleh Revolusi Industri serta ekspansi perusahaan-perusahaan yang bermodal gabungan dari Belanda dan Inggris. Kekuatan di balik globalisasi masa ini adalah terobosan di bidang perangkat keras, berawal dari kapal uap dan kereta api, hingga telepon dan komputer induk.

Sekitar tahun 2000 kita memasuki masa baru: Globalisasi 3.0. Globalisasi ini menyusutkan dunia dari ukuran kecil menjadi sangat kecil, sekaligus mendatarkan lapangan permainan. Kalau motor penggerak Globalisasi 1.0 adalah mengglobalnya negara; dan motor penggerak Globalisasi 2.0 adalah mengglobalnya perusahaan, uniknya, motor penggerak Globalisasi 3.0 adalah kekuatan baru yang – menurut Friedman – ditemukan untuk bekerja sama dan bersaing secara individual dalam kancah global. Friedman memberi sebutan Globalisasi 3.0 sebagai ”Tatanan Dunia Datar” yang mampu menyatukan komputer pribadi di seluruh dunia tanpa menghiraukan jarak antarmereka.

Apa perbedaan ketiga mazhab globalisasi ini? Perbedaan nyata antara Globalisasi 3.0 dengan kedua masa sebelumnya tidak hanya soal menyusutkan dan mendatarkan dunia, serta bagaimana memberdayakan individu. Globalisasi 3.0 berbeda dari dua masa sebelumnya karena digerakkan oleh individu dan dunia usaha Amerika maupun Eropa. Globalisasi 3.0 memungkinkan begitu banyak orang masuk dan turut bermain. Tak heran jika kita melihat manusia dari berbagai warna kulit ikut ambil bagian dalam permainan ini.

Kendati The World Is Flat bukan buku baru, ia tetap menarik untuk dibaca. Mengingat buku ini ditulis oleh seorang jurnalis, maka kekaguman saya pun bertambah. Pengalaman Friedman mengelilingi berbagai negara yang ia datangi dan jam terbangnya yang tinggi sebagai jurnalis, mampu menggerakkan tangan dan pikirannya untuk menulis buku sebagus ini.

Namun demikian, tak ada yang kekal di dunia ini. Demikian pula dengan perubahan yang sedang berlangsung. Jika Friedman menyebut era saat ini dengan sebutan Globalisasi 3.0, mungkinkah suatu saat akan muncul istilah Globalisasi 4.0?