Sabtu, 25 Juni 2016

SEMUSIM; BUNGA KAN MULAI MEKAR

SEMUSIM; BUNGA KAN MULAI MEKAR
( Sebuah catatan buat Dinda Nahdiya )

Tak mampu aku berbicara
Di musim yang mulai memberani
Bukan esok atau esoknya lagi
Aku tak mau menunggu hingga kering
Dedaunan hijau tiba-tiba meranggas
Jatuh tersapu angin yang tiada arah

Walau aku tak pernah melihat wajah-wajahnya
Warna abu-abu atau hitam yang gelap
Tak mudah aku beranjak
Namun aku masih punya nyali
Berdiri di atas kakiku
Menatap tajam jauh ke depan
Menerobos kokohnya Wilis, Merbabu
Dari Merapi hingga Slamet sekalipun

Mata nuraniku akan menajam
Hingga mampu mengerti sejengkal 
atau segores masalah yang akan menghardikku di esok lusa nanti

kala di musim pancaroba
ada angan yang tertambat
jiwa rindu yang bergelayut
hingga hanya uraian madah
mampu mengikat erat hati
suatu ungkapan kasih di hati yang masih bercabang....

maka tumbuhlah dengan liar
selagi alam masih belantara
hujan yang memberi; hijaukan dedaunan
maha daya yang mekarkan bunga
pribadi penuh karakter dan warna
dan dalam kerindangan aku berteduh
pejamkan dalam bait doa
jejakkan kaki nan sentausa
inilah jejakku di musim mekar berbunga.

JEMBING SASTRO.2010

PEREMPUANKU

PEREMPUANKU....
(lukisan dalam ruang-ruang kosongku)

bila sepagi ini ia telah datang 
dengan tangan terbuka ia menjabatku 
kurasakan ada satu kehalusan
satu kehangatan yang luar biasa 
yang mampu memecahkan kebekuan jiwaku

datang bersama getaran pagi ini
datang setenang air yang mengalir

perempuanku…. 
satu hal yang tak pernah kupahami
ilusi yang datang dan pergi
muncul tiba-tiba dan hilang kembali 
mengisi ruang-ruang kosong dihati

lukisan masa yang tak akan pernah luntur
duniaku….
dunia kecil dalam ruang-rung kosong hidupku
Perempuan-ku....
lukisan dalam ruang-ruang kosongku

JEMBING SASTRO.2010